
Yogyakarta (30/6). DPD LDII Kota Yogyakarta bekerja sama dengan DPD LDII Kabupaten Bantul menggelar kegiatan Talk About Life After Marriage: Menjalin Harmoni, Merawat Janji, dalam Satu Visi di Masjid Baitussalam, Daengan, Kota Yogyakarta, pada Minggu (28/6/2026).
Kegiatan ini mengangkat tema pentingnya kesehatan mental perempuan setelah memasuki pernikahan. Tujuannya menumbuhkan pemahaman bahwa pernikahan bukan sekadar ikatan, melainkan juga membutuhkan kesiapan mental, komunikasi yang baik, dan kedewasaan emosional. Melalui kegiatan ini, LDII membekali peserta agar siap menjalani kehidupan pernikahan yang sehat dan harmonis.
Pembina pemuda dan pemudi LDII Bantul, Didik Supriyanto, menyampaikan bahwa pernikahan tidak cukup hanya bertumpu pada cinta, tetapi juga ilmu. “Yang utama dalam pernikahan itu bukan cinta, tetapi ilmunya. Jika sudah menguasai ilmunya, maka cinta akan tumbuh dengan sendirinya,” ujarnya.

Sebanyak 250 remaja putri berusia 19 tahun ke atas mengikuti sesi talkshow dengan dua narasumber berpengalaman di bidangnya. Narasumber pertama, Fauziana Devi Pratiktya, S.Pd., Gr., membagikan tips dan cara membangun hubungan yang baik dengan mertua setelah menikah.
Ia menjelaskan bahwa langkah pertama yaitu menghormati mertua sebagaimana menghormati orang tua sendiri. Sikap sopan dan kemampuan mendengarkan menjadi kunci. Saat menghadapi perbedaan pendapat, seorang anak perlu tetap tenang, menghindari perdebatan, dan menyampaikan pendapat secara santun.
Fauziana juga menekankan pentingnya berdiskusi lebih dahulu dengan pasangan agar keduanya memiliki kesepakatan sebelum berbicara kepada mertua. Ia menambahkan bahwa menghargai peran mertua bukan berarti mereka menentukan seluruh keputusan rumah tangga. Suami dan istri tetap perlu mengutamakan musyawarah saat mengambil keputusan. “Ketika kita ingin dihargai, maka kita perlu menghargai orang lain,” ujarnya.
Pada sesi berikutnya, narasumber kedua, Tatik Sandiar, membahas karier dan eksistensi seorang istri. Menurutnya, karier memberi ruang bagi seorang istri untuk berkembang, sedangkan eksistensi membuat orang lain mendengar suaranya. “Keduanya membuat istri menjadi versi utuh dari dirinya sendiri dan dapat memberi manfaat bagi keluarga,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa memilih untuk berkarier bukanlah bentuk pertentangan dalam rumah tangga. Suami dan istri dapat menghadapi tantangan melalui komunikasi yang setara serta kerja sama yang baik.

Para peserta mengikuti kegiatan dengan antusias. Antusiasme tersebut terlihat dari sesi tanya jawab yang berlangsung aktif dan interaktif. Banyak peserta mengaku memperoleh sudut pandang baru tentang kesiapan menikah, tidak hanya dari sisi rasa cinta, tetapi juga ketangguhan mental.
Panitia menutup kegiatan dengan harapan agar para remaja putri LDII mampu mempersiapkan diri secara utuh sebelum memasuki pernikahan sehingga mereka dapat mewujudkan keluarga yang sakinah, penuh kasih, dan saling menguatkan. (Arum/*)
DPD LDII KOTA Lembaga Dakwah Islam Indonesia