Musda VIII LDII Kota Yogyakarta: Ketua Komisi D DPRD DIY Soroti Tantangan Sosial dan Dorong Sinergi Berbasis Data

Musda VIII LDII Kota Yogyakarta
Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu B, memberikan pembekalan pada Musda VIII LDII Kota Yogyakarta di Gedung Serbaguna Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Minggu (20/9/2026).

Yogyakarta (20/9). Mengusung tema “Sinergi Pemerintah Daerah dan Organisasi Kemasyarakatan dalam Mewujudkan Masyarakat Kota Yogyakarta yang Sehat, Cerdas, dan Sejahtera”, Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu Budiantoro, memberikan pembekalan yang tajam pada ajang Musyawarah Daerah (Musda) VIII LDII Kota Yogyakarta. Musda berlangsung di Gedung Serbaguna Mantrijeron, Kota Yogyakarta pada Minggu (20/9/2026).

“Organisasi kemasyarakatan seperti LDII tidak dapat berjalan sendiri dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, melainkan harus bersinergi secara strategis dengan pembuat kebijakan, yakni pihak eksekutif dan legislatif,” kata Dwi Wahyu.

Ia membeberkan realitas demografi dan kesehatan masyarakat Kota Yogyakarta yang saat ini didominasi oleh 61 persen kelompok lansia. Ironisnya, dari 39 persen kelompok usia produktif yang ada, banyak yang rentan terhadap masalah kesehatan mental (mental health), stunting, hingga ancaman penyakit menular.

Dwi Wahyu memaparkan data mengejutkan bahwa kasus HIV di Kota Yogyakarta telah menembus angka 2.000 lebih, angka Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) mencapai 3.000 kasus, serta tingginya penderita TBC yang bisa mencapai 100 hingga 150 orang di setiap kalurahan.

“Tantangan sosial ini semakin diperparah dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi (IT) yang tak terkendali,” ujarnya.

Dwi menyoroti bagaimana kecanduan gawai, pinjaman online (pinjol), dan judi online (judol) merusak tatanan sosial, ekonomi, hingga memicu depresi yang berujung pada peningkatan kasus ODGJ.

Musda VIII LDII Kota Yogyakarta
Pembekalan peserta Musda VIII LDII Kota Yogyakarta oleh Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu.

“Hari ini, tanpa kita sadari, kita sebagai makhluk sosial sudah bergeser menjadi makhluk digital. Generasi Z sudah kehilangan kemandiriannya karena ketergantungan pada algoritma dan Artificial Intelligence (AI),” tegas Dwi di hadapan peserta Musda.

Menurutnya, IT seharusnya diperlakukan sebagai alat bantu produksi yang sesuai dengan konsep kita, bukan sebaliknya, IT yang menghegemoni dan merusak budaya adiluhung kita.

Dari sisi infrastruktur dan lingkungan hidup, politisi ini juga menyoroti krisis air bersih dan tingginya angka stunting di daerah pinggiran kota yang kerap disebabkan oleh buruknya sanitasi, di mana jarak antara sumur dan jamban yang terlalu berdekatan. Terkait krisis air, Dwi mengkritisi kondisi pipa PDAM berusia 125 tahun yang memiliki tingkat kebocoran lebih dari 50 persen.

Sebagai solusi, ia mengusulkan pembuatan sumur dalam (deep well) berbasis kajian tata ruang di tingkat wilayah yang pengelolaannya dapat disubsidi oleh PDAM.

Dalam bidang pendidikan, Dwi Wahyu sangat mendukung model pendidikan berbasis asrama atau pondok pesantren seperti yang dikembangkan oleh LDII. Menurutnya, asrama mampu memproteksi anak didik dari pengaruh buruk lingkungan luar dan media sosial.

“Sekaligus menanamkan karakter yang tidak hanya kuat secara agama, namun juga peduli terhadap kondisi sosial masyarakat sekitarnya,” ujarnya.

Menutup paparannya, Dwi Wahyu mengajak LDII untuk memosisikan diri secara tepat dengan meminjam konsep dialektika Hegel. Ia berpesan agar LDII tidak hanya menjadi objek atau korban dari sebuah regulasi, melainkan harus tampil sebagai subjek pembawa solusi.

Check Also

Audiensi Pengurus DPD LDII Kota Yogyakarta ke Walikota Yogyakarta

Jelang Musda VIII, LDII Kota Yogyakarta adakan Audiensi dengan Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo

Yogyakarta (10/9) – DPD LDII Kota Yogyakarta melaksanakan audiensi dengan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

this page